@kamilintravel: Niestety warunki mieszkalne większości ludzi w tym kraju są poniżej jakich kolwiek standardów😱 #challenge #kamilintravel #travel #change #viral

Kamil In Travel
Kamil In Travel
Open In TikTok:
Region: PL
Friday 25 September 2026 11:13:54 GMT
279666
9417
190
1820

Music

Download

Comments

nmencel
♡ :
wdzięczna za bycie polką zawsze na zawsze
2026-09-25 13:17:20
2514
user7282688702281
gid :
jak ja kocham mój kraj
2026-09-25 12:03:54
1013
jatoja._3
JaToJa._. :
Widząc takie obrazy jeszcze mocniej doceniam to co mam.
2026-09-25 17:38:43
301
zofka245
Zofka 245 :
Ja też zwiedzam .Ale zawsze będę powtarzać że Polska jest piękna i czysta .
2026-09-25 15:29:32
95
gsjsjgh0
Dominika :
Serio ludzie doceniajmy to gdzie się urodziliśmy i gdzie żyjemy, bo my mamy jak pączki w maśle
2026-09-28 10:46:47
41
studentkamedycyny
23LetniaStudentkaMedycyny :
"Myją się " nie wiem czy w tym miejscu można nazwać efekt końcowy w ten sposób
2026-09-25 14:39:08
48
ceglanepluco
Heri Pota :
od pieluchy czułem że polska to luksus
2026-09-25 18:44:51
113
giorgioeismani
Giorgio Eismani :
Straszne. A my czasem narzekamy.
2026-09-25 17:49:42
47
julka.smm
julkv.exe :
Biedni ludzie..
2026-09-26 02:18:16
112
gregorypack1967
gregory pack :
A my materace wyrzucamy, bo zrobiły się za miękkie 🥺🥺
2026-09-25 14:13:04
15
torujacydrogi
torujący drogi :
Tylko 5% ludzi na świecie rodzi się w europie, i wydaje mi się że mamy bardzo dobrze
2026-09-27 03:25:23
20
joanna.uddin4
Joanna Uddin :
Jakbyś szukał zakwaterowania w pobliżu Dhaki to zapraszam do nas. Wprawdzie nas tam nie ma, ale mamy swoje mieszkanie, które obecnie jest puste.
2026-09-25 11:24:46
7
annnnn546
annnnn :
Jesteśmy częściowo winni konsumpcjonizmu. Ale prawda jest taka, że to wina elit. Im bardziej rozwija się wolny kapitalizm, tym większymi władzami świata są miliarderzy. Nie zrobili nic, żeby zasłużyć na takie bogactwo
2026-09-27 06:54:21
21
danutaadamus1
DanusiaAdamus :
To hotel 😂 oni tylko tam śpią trochę bo cały czas pracują mają ciężkie życie serce ściska
2026-09-25 12:02:00
46
jjjggghhhfffccc
jjjggghhhfffccc :
wygląda podobnie jak pokój hotelowy na wycieczce szkolnej🫠🫠
2026-09-25 11:16:47
12
darienlove3
🌺𝔇𝔞𝔯𝔦𝔢𝔩𝔩𝔞🌺🇵🇰🇵🇱 :
Koszmar
2026-09-26 01:35:19
11
agnieszkamatusiak91
🦆🦆agnieszkamatusiak91🦆🦆🦆 :
Jak ja kocham swój kraj❤️
2026-09-28 09:21:14
9
szczescie060
szczescie :
Jesteśmy bogaci mając to co mamy szanujemy 🍀
2026-09-25 17:05:00
15
nauruak
Nauru :
Jak na ich warunki to jest chyba solidnie
2026-09-25 11:46:58
43
ana504049
Ana :
Pora doceniac to co mam
2026-09-26 12:23:01
6
user4545706725749
Wojciech Andruchów :
Nie można generalizować. Wszędzie na całym świecie można znaleźć takie miejscówki pracownicze. Rodzinne domy wyglądają inaczej.
2026-09-25 12:19:05
13
danka6433
danka6433 :
To jak internat
2026-09-26 16:52:47
5
dodox1pl
Dominik :
piękne miejsca w sam raz na rodzinne wakacje.
2026-09-25 12:10:21
68
martyn_ka6
martyn_ka6 :
matko jedyna to jest jakiś koszmar
2026-09-25 19:17:54
5
rynkowskaqc
rynkowskaqc :
Trzeba przyznać, że czysto mają jak na takie warunki
2026-09-25 20:56:16
17
To see more videos from user @kamilintravel, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Di Balik Kesederhanaan Hafid di Bawah Kolong Jembatan Kadilangu Di balik kehidupannya yang sederhana di bawah kolong jembatan kawasan Kadilangu, Demak, Hafid mengaku pernah menjalani kehidupan yang penuh pencapaian. Ia mengaku merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), kemudian melanjutkan pendidikan spesialis THT di Singapura dan menempuh studi selama empat tahun di Italia. Setelah kembali ke Indonesia, Hafid bersama istrinya yang juga seorang dokter membuka sebuah apotek di Jember. Namun, kebahagiaan itu berubah setelah sebuah tragedi kecelakaan merenggut orang-orang yang paling dicintainya. Ia kehilangan ibu, istri tercinta, serta anak semata wayangnya yang disebut pernah menempuh pendidikan di Jerman. Kehilangan tersebut membuat kehidupan Hafid berubah sepenuhnya. «“Setelah mereka meninggal, saya tinggalkan semuanya. Apotek saya tutup, pekerjaan saya lepas,” ujar Hafid.» Sejak sekitar sembilan tahun lalu, Hafid memilih tinggal di sebuah gubuk sederhana berdinding bambu berukuran sekitar 2×4 meter, di bawah kolong jembatan dekat Bendung Sungai Kalijajar, Kadilangu. Hari-harinya dijalani dengan sederhana. Ia berjalan menuju Masjid Kadilangu untuk beribadah, kemudian melanjutkan perjalanan ke makam Sunan Kalijaga. Selebihnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri di tempat tinggalnya sambil membaca Al-Qur’an. Hafid mengaku mampu membaca satu hingga tiga juz Al-Qur’an setiap hari. Meski masih memiliki keluarga besar dan sebuah pondok pesantren di Jember, Hafid mengaku tidak betah tinggal terlalu lama di rumah. Ia merupakan anak tunggal dan memiliki tiga adik angkat yang semuanya merupakan sarjana di bidang kesehatan. Sesekali ia pulang ke Jember. Namun, pada akhirnya Hafid kembali lagi ke Kadilangu. Kisah Hafid mengingatkan kita bahwa di balik kehidupan seseorang yang terlihat sederhana, bisa tersimpan perjalanan hidup yang panjang, penuh pencapaian, sekaligus luka dan kehilangan yang tidak terlihat oleh orang lain. Setiap manusia memiliki cerita. Dan terkadang, kita hanya melihat halaman terakhirnya tanpa pernah tahu seluruh kisah yang telah dilaluinya. #beritaviral
Di Balik Kesederhanaan Hafid di Bawah Kolong Jembatan Kadilangu Di balik kehidupannya yang sederhana di bawah kolong jembatan kawasan Kadilangu, Demak, Hafid mengaku pernah menjalani kehidupan yang penuh pencapaian. Ia mengaku merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), kemudian melanjutkan pendidikan spesialis THT di Singapura dan menempuh studi selama empat tahun di Italia. Setelah kembali ke Indonesia, Hafid bersama istrinya yang juga seorang dokter membuka sebuah apotek di Jember. Namun, kebahagiaan itu berubah setelah sebuah tragedi kecelakaan merenggut orang-orang yang paling dicintainya. Ia kehilangan ibu, istri tercinta, serta anak semata wayangnya yang disebut pernah menempuh pendidikan di Jerman. Kehilangan tersebut membuat kehidupan Hafid berubah sepenuhnya. «“Setelah mereka meninggal, saya tinggalkan semuanya. Apotek saya tutup, pekerjaan saya lepas,” ujar Hafid.» Sejak sekitar sembilan tahun lalu, Hafid memilih tinggal di sebuah gubuk sederhana berdinding bambu berukuran sekitar 2×4 meter, di bawah kolong jembatan dekat Bendung Sungai Kalijajar, Kadilangu. Hari-harinya dijalani dengan sederhana. Ia berjalan menuju Masjid Kadilangu untuk beribadah, kemudian melanjutkan perjalanan ke makam Sunan Kalijaga. Selebihnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri di tempat tinggalnya sambil membaca Al-Qur’an. Hafid mengaku mampu membaca satu hingga tiga juz Al-Qur’an setiap hari. Meski masih memiliki keluarga besar dan sebuah pondok pesantren di Jember, Hafid mengaku tidak betah tinggal terlalu lama di rumah. Ia merupakan anak tunggal dan memiliki tiga adik angkat yang semuanya merupakan sarjana di bidang kesehatan. Sesekali ia pulang ke Jember. Namun, pada akhirnya Hafid kembali lagi ke Kadilangu. Kisah Hafid mengingatkan kita bahwa di balik kehidupan seseorang yang terlihat sederhana, bisa tersimpan perjalanan hidup yang panjang, penuh pencapaian, sekaligus luka dan kehilangan yang tidak terlihat oleh orang lain. Setiap manusia memiliki cerita. Dan terkadang, kita hanya melihat halaman terakhirnya tanpa pernah tahu seluruh kisah yang telah dilaluinya. #beritaviral

About