@michellebellexo: Noah’s Ark has been rediscovered so many times now. Plus what would scientifically proving it was actually the Ark really mean?

Michelle Raleigh Bartender
Michelle Raleigh Bartender
Open In TikTok:
Region: US
Monday 05 October 2026 20:14:29 GMT
39247
3129
124
19

Music

Download

Comments

tami_inreallife83
Tamara Colón :
It’s been found, but we have new technology that may confirm it is actually Noah’s ark! Ron Wyatt was laughed at when he tried to do studies!
2026-10-05 21:19:55
45
luckdragon_77
Wayfarer :
the Bible says the Ark landed on top of Ararat when the flood waters receded
2026-10-05 21:41:46
7
lprs4ever
Yas :
Yeah but it’s good to remind people that God exist .
2026-10-05 21:20:57
9
murphy20227
theophilus :
I'm questioning if you believe in flat earth at this point...... lol
2026-10-06 03:24:32
1
jayallenconrad
jayallenconrad :
The real question is: How do they keep losing it?
2026-10-05 23:28:55
31
blakeandrews031
Blake :
do you not believe in god
2026-10-05 20:19:39
5
mydogwrites
Lauren :
We can prove the flood because there’s a flood story in every religious story
2026-10-06 02:55:15
1
jeffs378
jeffs378 :
fools Gold
2026-10-05 22:15:13
0
alypoo99
ALY ❤️ :
I’m late to the bar again…DAMMIT.
2026-10-05 20:41:05
7
trollstreehouse
Mel :
The importance of it being on top of the mountain would probably be the highest point .
2026-10-06 04:22:58
0
mama_bear_tina
Mama bear :
But wouldn’t it be amazing if it was. Just the thought that we found something that existed in the Bible.
2026-10-05 20:35:12
8
kristenacosta75
Kristen 🏳️‍🌈🪶♊🏴‍☠️🍭📀 :
wel, we do have proof that the earth used to be covered I n aater bc there are sea fossils in the rocks, high in the mountains.
2026-10-05 22:52:06
1
ireland.brackett
Ireland Brackett :
This is why Im not Christian or religious cuz this is ridiculous
2026-10-06 04:09:33
2
_naomionline_
𝚗𝚊𝚘𝚖𝚒 𝚘𝚗𝚕𝚒𝚗𝚎 :
I was wondering! I’m like, wait - haven’t they found it before??
2026-10-06 04:16:19
1
tach513
Tach :
Pretty sure it hit the news cycle again is because they were allowed to do more invasive scientific testing (drilling & extraction).
2026-10-05 22:22:44
2
mercyashworth05
Mercy :
Ken Ham made a video talking about how it wasn’t found and thinking about it the wood wouldn’t last that long even if buried
2026-10-05 23:59:18
0
henrimellden8a
Henrimellden8A :
Ikr right like they posted it like we already know it we don’t have to know it agine it’s just wasting time to send out or am I wrong?!
2026-10-05 20:18:42
5
gdanesforlife
Kinaxla Wellness ✨85lb↓ :
Girl, you crack me up. "How many times are they gonna find this thing?" 😂
2026-10-05 21:56:52
2
bubblegum_jean
Charlee Tibljas :
I opened the bar
2026-10-05 20:16:13
5
billyourmom556
banksy_bill :
Believing the big bang theory is the same as believing in a god
2026-10-05 20:57:30
4
angie28126
Angie :
Dang I missed opening the bar lol
2026-10-05 20:21:14
3
kimberlythomas1985
kimberlythomas1985 :
I think its more for confirmation but I get your question.
2026-10-05 21:03:54
4
brittanyannhacker1
Brittany Ann :
they found shells in the mountains where it was found
2026-10-05 22:10:16
2
botanicalb
botanicalb :
THANK YOU! How many times
2026-10-05 23:05:52
1
eddie__1234
Eddie+2 :
it was on the 1500s map. it's been the boat since it landed
2026-10-06 05:24:05
1
To see more videos from user @michellebellexo, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Maaf, Ras. Lamaran aku batalkan. Aku udah PNS, jadi nyari calon istri yang setara.” Kalimat itu jatuh seperti batu di dada. Berat, dingin, dan membekas. Aku berdiri di depan Fadil yang bahkan tak berani menatap mataku. Tangannya sibuk memutar kunci mobil, seolah sedang berbicara pada logam, bukan padaku, perempuan yang selama tiga tahun menemaninya dari nol, dari fase gagal tes CPNS sampai akhirnya lulus. Mobil putih di belakangnya masih berbau baru, catnya memantulkan cahaya matahari. Pelat nomornya belum genap seminggu keluar, dan aku tahu, mobil itu bukan hasil tabungan. Semua orang di desa tahu Fadil menggadaikan SK PNS-nya buat DP. Mobil kredit yang jadi kebanggaan barunya. “Setara?” suaraku nyaris tak keluar. “Aku cuma nggak punya gelar aja, A. Bukan nggak punya hati.” Dia terdiam sebentar, lalu tersenyum kaku. “Aku cuma realistis, Ras. Aku harus mikirin masa depan. Maaf.” Aku menatapnya lekat-lekat. Dulu, waktu masih naik motor butut ke rumah, dia sering bilang, ‘Yang penting ada kamu, Ras. Aku nggak butuh mobil, asal bisa jalan bareng.’ Sekarang ternyata yang dia mau bukan lagi aku, tapi kursi empuk, gaji tetap, dan istri yang bisa dibanggakan di depan teman-teman kantornya. “Berarti selama ini aku cuma batu loncatan, ya?” tanyaku pelan. Dia menghela napas. “Jangan ngomong gitu. Aku cuma... pengin pasangan yang bisa ngimbangin aku.” “Ngimbangin? Aku ikut aa dari nol. Aku kerja sambil kuliah, nabung biar bisa bantu biaya lamaran ini, dan Aa bilang aku nggak ngimbangin?” Dia menunduk, lalu menutup pintu mobil. “Maaf, Ras.” Satu kata yang lebih menusuk daripada seribu alasan. Fadil menstarter mesin. Suara mobil barunya terdengar halus, tapi bagiku, justru seperti ejekan. Aku berdiri kaku di halaman, melihat mobil itu melaju pelan keluar pekarangan rumah, meninggalkan debu dan perasaan yang tak akan mudah bersih. Begitu saja. Satu kalimat “maaf” menutup tiga tahun cerita. Aku masih terpaku di depan rumah. Balon dan hiasan bunga yang tadinya kupasang bersama Ibu sekarang terlihat konyol. Di meja ruang tamu masih ada kue tart dengan tulisan Selamat Lamaran, Raras & Fadil. Ironi yang manis dan pahit. Ibu hanya diam di dapur, sibuk mencuci piring yang tak jadi dipakai. Airnya sudah keruh, tapi air matanya lebih jernih. “Udahlah, Teh,” katanya pelan tanpa menatapku. “Mungkin memang bukan jodohnya.” Aku mengangguk. “Iya, Bu.” Tapi air mataku tetap jatuh, entah untuk Fadil, untuk diriku sendiri, atau untuk harga diri yang baru saja diinjak. Ayah keluar ke sawah tanpa sepatah kata. Aku tahu, bukan karena tak peduli, tapi karena tak tahu harus bilang apa. Di rumah sederhana kami, cinta jarang dibicarakan, apalagi ditangisi. Aku memang cuma anak petani, hidup di pinggiran desa yang jauh dari kota. Tiap pagi berangkat kerja ke minimarket di jalan utama, berdiri seharian di depan kasir sambil senyum ke pelanggan yang sering lupa bilang terima kasih. Tapi aku nggak malu. Kerja halal, walau kecil. Cuma ya, dunia nggak pernah benar-benar adil pada orang kecil. Sore itu, kabar menyebar lebih cepat dari hujan turun. Fadil datang ke rumah sahabatku sendiri, Mirna. Anak camat. Cantik, berpendidikan, dan jelas “setara.” Aku dengar dari tetangga yang baru pulang dari warung depan. “Eh, si Fadil itu lho, mobil barunya parkir di depan rumah Bu Camat! Katanya mau melamar Mirna!” “Serius? Bukannya dulu sama si Raras?” “Lha itu, makanya. Katanya yang cocok ya anak pejabat, bukan anak tani.” Tawa mereka melayang sampai ke ruang tamu, menampar lebih keras daripada kata putus. Aku langsung masuk kamar. Menatap langit-langit, menatap sepi. Kadang, yang paling menyakitkan bukan ditinggal, tapi diganti oleh seseorang yang jauh lebih sempurna di mata dunia. Kutelan semua tangis itu, lalu kuambil ponsel. Kumasukkan semua perasaan yang nggak bisa kuucapkan ke satu kalimat di kolom status Facebook. [ Andai aja ada pria yang datang serius melamarku detik ini juga, aku terima. Siapa pun #DramaIndonesia #reelsfyp #pnsmuda #pnscantik #dramapendek
“Maaf, Ras. Lamaran aku batalkan. Aku udah PNS, jadi nyari calon istri yang setara.” Kalimat itu jatuh seperti batu di dada. Berat, dingin, dan membekas. Aku berdiri di depan Fadil yang bahkan tak berani menatap mataku. Tangannya sibuk memutar kunci mobil, seolah sedang berbicara pada logam, bukan padaku, perempuan yang selama tiga tahun menemaninya dari nol, dari fase gagal tes CPNS sampai akhirnya lulus. Mobil putih di belakangnya masih berbau baru, catnya memantulkan cahaya matahari. Pelat nomornya belum genap seminggu keluar, dan aku tahu, mobil itu bukan hasil tabungan. Semua orang di desa tahu Fadil menggadaikan SK PNS-nya buat DP. Mobil kredit yang jadi kebanggaan barunya. “Setara?” suaraku nyaris tak keluar. “Aku cuma nggak punya gelar aja, A. Bukan nggak punya hati.” Dia terdiam sebentar, lalu tersenyum kaku. “Aku cuma realistis, Ras. Aku harus mikirin masa depan. Maaf.” Aku menatapnya lekat-lekat. Dulu, waktu masih naik motor butut ke rumah, dia sering bilang, ‘Yang penting ada kamu, Ras. Aku nggak butuh mobil, asal bisa jalan bareng.’ Sekarang ternyata yang dia mau bukan lagi aku, tapi kursi empuk, gaji tetap, dan istri yang bisa dibanggakan di depan teman-teman kantornya. “Berarti selama ini aku cuma batu loncatan, ya?” tanyaku pelan. Dia menghela napas. “Jangan ngomong gitu. Aku cuma... pengin pasangan yang bisa ngimbangin aku.” “Ngimbangin? Aku ikut aa dari nol. Aku kerja sambil kuliah, nabung biar bisa bantu biaya lamaran ini, dan Aa bilang aku nggak ngimbangin?” Dia menunduk, lalu menutup pintu mobil. “Maaf, Ras.” Satu kata yang lebih menusuk daripada seribu alasan. Fadil menstarter mesin. Suara mobil barunya terdengar halus, tapi bagiku, justru seperti ejekan. Aku berdiri kaku di halaman, melihat mobil itu melaju pelan keluar pekarangan rumah, meninggalkan debu dan perasaan yang tak akan mudah bersih. Begitu saja. Satu kalimat “maaf” menutup tiga tahun cerita. Aku masih terpaku di depan rumah. Balon dan hiasan bunga yang tadinya kupasang bersama Ibu sekarang terlihat konyol. Di meja ruang tamu masih ada kue tart dengan tulisan Selamat Lamaran, Raras & Fadil. Ironi yang manis dan pahit. Ibu hanya diam di dapur, sibuk mencuci piring yang tak jadi dipakai. Airnya sudah keruh, tapi air matanya lebih jernih. “Udahlah, Teh,” katanya pelan tanpa menatapku. “Mungkin memang bukan jodohnya.” Aku mengangguk. “Iya, Bu.” Tapi air mataku tetap jatuh, entah untuk Fadil, untuk diriku sendiri, atau untuk harga diri yang baru saja diinjak. Ayah keluar ke sawah tanpa sepatah kata. Aku tahu, bukan karena tak peduli, tapi karena tak tahu harus bilang apa. Di rumah sederhana kami, cinta jarang dibicarakan, apalagi ditangisi. Aku memang cuma anak petani, hidup di pinggiran desa yang jauh dari kota. Tiap pagi berangkat kerja ke minimarket di jalan utama, berdiri seharian di depan kasir sambil senyum ke pelanggan yang sering lupa bilang terima kasih. Tapi aku nggak malu. Kerja halal, walau kecil. Cuma ya, dunia nggak pernah benar-benar adil pada orang kecil. Sore itu, kabar menyebar lebih cepat dari hujan turun. Fadil datang ke rumah sahabatku sendiri, Mirna. Anak camat. Cantik, berpendidikan, dan jelas “setara.” Aku dengar dari tetangga yang baru pulang dari warung depan. “Eh, si Fadil itu lho, mobil barunya parkir di depan rumah Bu Camat! Katanya mau melamar Mirna!” “Serius? Bukannya dulu sama si Raras?” “Lha itu, makanya. Katanya yang cocok ya anak pejabat, bukan anak tani.” Tawa mereka melayang sampai ke ruang tamu, menampar lebih keras daripada kata putus. Aku langsung masuk kamar. Menatap langit-langit, menatap sepi. Kadang, yang paling menyakitkan bukan ditinggal, tapi diganti oleh seseorang yang jauh lebih sempurna di mata dunia. Kutelan semua tangis itu, lalu kuambil ponsel. Kumasukkan semua perasaan yang nggak bisa kuucapkan ke satu kalimat di kolom status Facebook. [ Andai aja ada pria yang datang serius melamarku detik ini juga, aku terima. Siapa pun #DramaIndonesia #reelsfyp #pnsmuda #pnscantik #dramapendek

About