@sankorlatiff1: Single room self contained available for rent 600ghc monthly inspection fee 150ghc agent fee 600ghc #winneba #everyone #goviral #fyppppppppppppppppppppppp #africa

Sankor latiff
Sankor latiff
Open In TikTok:
Region: GH
Monday 12 October 2026 11:36:44 GMT
3230
195
8
8

Music

Download

Comments

bortsie24
T-dora :
location pls
2026-10-13 20:41:04
0
shidaaaa5
❀Shidaaaaaa ও :
Is this room available
2026-10-12 18:42:31
0
efya_fowaa
Efya_fowaa :
Where exactly please
2026-10-12 17:03:59
0
945abig
ABI’S COLLECTION ❤️🥰 :
Please is it available
2026-10-12 19:01:32
0
angelaaa.xo77
Perfume oil in Winneba :
Negotiable??please
2026-10-12 11:44:27
0
elormvitashie
Engineer 👷 :
Area
2026-10-12 11:50:19
0
To see more videos from user @sankorlatiff1, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Mas, aku pernah berada di satu titik yang sampai hari ini masih sering datang di kepalaku. Titik di mana aku tidak sanggup melangkah pergi. Aku hanya berdiri di depan rumah yang dulu rasanya seperti rumah kita. Rumah yang dulu di dalamnya ada aku dan kamu. Tempat yang pernah dipenuhi tawa, cerita-cerita kecil, dan harapan tentang masa depan yang ternyata tidak pernah benar-benar ada. Hari itu aku berdiri cukup lama. Entah berapa menit, entah berapa jam. Aku sendiri sudah tidak ingat. Yang kuingat hanya satu. Kamu menutup pintu itu. Dengan keras. Tanpa menoleh lagi ke arahku. Suara pintu itu sampai sekarang masih sering terdengar di kepalaku. Bukan karena kerasnya. Tapi karena setelah pintu itu tertutup, aku sadar kalau bukan hanya pintunya yang ditutup. Kamu juga sedang menutup semua kemungkinan tentang kita. Aku berdiri sendirian di luar. Seperti seseorang yang tidak lagi memiliki tempat untuk pulang. Aku tidak mengetuk pintu itu lagi. Aku tidak berteriak memanggil namamu. Aku tidak memohon agar kamu membukanya kembali. Aku hanya menunduk. Diam. Karena ternyata ada rasa sakit yang begitu besar sampai air mata pun rasanya enggan keluar. Aku hanya melihat lantai di depanku. Berharap mungkin beberapa detik lagi pintu itu akan terbuka lagi. Berharap mungkin kamu akan keluar dan berkata kalau semua ini hanya salah paham. Tapi harapan itu tidak pernah terjadi. Pintu itu tetap tertutup. Dan aku tetap berdiri di luar. Mas, waktu itu rasanya seperti aku sedang diusir dari tempat yang selama ini kuanggap rumah. Padahal sebelumnya kamulah yang mempersilahkanku masuk. Kamulah yang membuatku percaya bahwa aku boleh menetap. Kamulah yang bilang aku tidak perlu takut berjalan sendirian lagi. Lalu kenapa akhirnya aku justru menjadi orang pertama yang harus keluar? Aku sering bertanya-tanya. Apa memang semudah itu mengeluarkan seseorang yang sudah bertahun-tahun tinggal di hatimu? Apa memang semudah itu berpura-pura tidak mengenal seseorang yang dulu begitu kamu perjuangkan? Atau memang hanya aku yang menganggap semua itu berarti? Hari itu aku pulang dengan langkah yang sangat berat. Rasanya bukan kakiku yang berjalan. Tapi tubuhku yang menyeret sisa-sisa harapan yang sudah hancur. Sejak hari itu aku sadar. Ada orang yang bisa mengusir kita tanpa mengucapkan kalimat
Mas, aku pernah berada di satu titik yang sampai hari ini masih sering datang di kepalaku. Titik di mana aku tidak sanggup melangkah pergi. Aku hanya berdiri di depan rumah yang dulu rasanya seperti rumah kita. Rumah yang dulu di dalamnya ada aku dan kamu. Tempat yang pernah dipenuhi tawa, cerita-cerita kecil, dan harapan tentang masa depan yang ternyata tidak pernah benar-benar ada. Hari itu aku berdiri cukup lama. Entah berapa menit, entah berapa jam. Aku sendiri sudah tidak ingat. Yang kuingat hanya satu. Kamu menutup pintu itu. Dengan keras. Tanpa menoleh lagi ke arahku. Suara pintu itu sampai sekarang masih sering terdengar di kepalaku. Bukan karena kerasnya. Tapi karena setelah pintu itu tertutup, aku sadar kalau bukan hanya pintunya yang ditutup. Kamu juga sedang menutup semua kemungkinan tentang kita. Aku berdiri sendirian di luar. Seperti seseorang yang tidak lagi memiliki tempat untuk pulang. Aku tidak mengetuk pintu itu lagi. Aku tidak berteriak memanggil namamu. Aku tidak memohon agar kamu membukanya kembali. Aku hanya menunduk. Diam. Karena ternyata ada rasa sakit yang begitu besar sampai air mata pun rasanya enggan keluar. Aku hanya melihat lantai di depanku. Berharap mungkin beberapa detik lagi pintu itu akan terbuka lagi. Berharap mungkin kamu akan keluar dan berkata kalau semua ini hanya salah paham. Tapi harapan itu tidak pernah terjadi. Pintu itu tetap tertutup. Dan aku tetap berdiri di luar. Mas, waktu itu rasanya seperti aku sedang diusir dari tempat yang selama ini kuanggap rumah. Padahal sebelumnya kamulah yang mempersilahkanku masuk. Kamulah yang membuatku percaya bahwa aku boleh menetap. Kamulah yang bilang aku tidak perlu takut berjalan sendirian lagi. Lalu kenapa akhirnya aku justru menjadi orang pertama yang harus keluar? Aku sering bertanya-tanya. Apa memang semudah itu mengeluarkan seseorang yang sudah bertahun-tahun tinggal di hatimu? Apa memang semudah itu berpura-pura tidak mengenal seseorang yang dulu begitu kamu perjuangkan? Atau memang hanya aku yang menganggap semua itu berarti? Hari itu aku pulang dengan langkah yang sangat berat. Rasanya bukan kakiku yang berjalan. Tapi tubuhku yang menyeret sisa-sisa harapan yang sudah hancur. Sejak hari itu aku sadar. Ada orang yang bisa mengusir kita tanpa mengucapkan kalimat "pergi." Cukup dengan diamnya. Cukup dengan pintu yang ditutup. Cukup dengan sikapnya yang membuat kita mengerti kalau kehadiran kita sudah tidak lagi diinginkan. Mas... Aku sudah terlalu lama berdiri di depan pintu itu. Meski ragaku sudah pergi, hatiku masih sering kembali ke sana. Masih sering membayangkan bagaimana kalau waktu itu semuanya berbeda. Bagaimana kalau pintu itu tidak pernah ditutup. Bagaimana kalau kita sama-sama memilih bertahan. Tapi hidup tidak berjalan dengan kata "bagaimana kalau." Hidup terus memaksaku melangkah. Sedangkan kakiku masih terasa berat. Aku ingin pergi dari tempat itu. Aku ingin berhenti menunggu pintu yang tidak akan pernah terbuka lagi. Aku ingin berdiri lebih tegak. Aku ingin hidup tanpa terus melihat ke belakang. Tapi ternyata keluar dari sebuah tempat jauh lebih mudah daripada keluar dari kenangan. Kenangan tidak punya alamat. Dia tinggal di kepala. Dia datang kapan saja. Kadang saat aku sedang tertawa. Kadang saat aku sedang sendirian. Kadang hanya karena melihat seseorang memakai baju yang mirip denganmu. Atau mendengar suara pintu ditutup. Semua itu cukup membuatku kembali ke hari itu.

About