@hamsatherbaba1:

le randonneur du Sahel 🇳🇪🙏
le randonneur du Sahel 🇳🇪🙏
Open In TikTok:
Region: NE
Monday 12 October 2026 11:43:04 GMT
176885
17991
1363
1948

Music

Download

Comments

user2519088440440
gorko poullo :
wallahi nigawa
2026-10-12 17:31:31
24
daoidrissa8
daoidrissa310 :
un arme constituée de plusieurs composantes très nécessaire un simple soudeur ne peut pas le faire
2026-10-13 06:55:19
11
alkassoumnafatoum
MoMo :
Un jour c'est toi qui vas nous fabriquer une bombe atomique
2026-10-12 21:13:33
13
hamsatherbaba1
le randonneur du Sahel 🇳🇪🙏 :
[J'aime][J'aime][J'aime] nigérien et capable de tout
2026-10-12 11:45:00
10
artist.ibrahim.one
Artist Ibrahim One :
Alhamdulilah Macha Allah vive la grande CNSP amine ya Rabbi vive l'AES pour toujours
2026-10-12 15:32:32
8
djibrillahamadou88
djibrillahamadou88 :
tu Va créé problème mon frères
2026-10-12 23:25:29
5
souleymanedourfay
souleymanedourfay :
du courage
2026-10-12 20:37:09
7
mr.fall09
NourayniNinger 🇳🇪 :
merci frère bon courage on doit les fabriquer nous même
2026-10-12 23:55:10
8
mahamanesidiquema
Mahamane sidique Mahamane :
Merci le patriote
2026-10-13 21:48:08
2
muhammedisiaka4
muhammedisiaka4 :
🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲
2026-10-14 21:08:34
1
yakouba.hamidou62
Yakouba hamidou :
félicitations pour ton travail merci beaucoup wly alhamdoulilah[J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime][J'aime]
2026-10-16 09:34:06
1
issaredouane4
😎🖇️ :
du courage Billa
2026-10-12 19:38:20
5
wahababdoul11
Wahab Abdoul :
ça c'est très bien ça c'est très
2026-10-12 20:12:27
8
user8010039157483
جبريل عبدالله :
merci beaucoup pour ton travail mon frère Du courage bon travail 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰@
2026-10-14 05:58:04
2
user2327661009051
2134 :
Macha Allah
2026-10-12 17:09:17
6
hamad.agali2
Hamad Agali :
du courage mon frère,mais surtout sois beaucoup prudent pour ne pas être enlevé,par c que les mals intentionnés auront besoin de toi, Qu'Allah te protège
2026-10-12 20:08:18
6
zeinabaidrissa2
zeïnaba idrissa🇳🇪🇳🇪🇳🇪 :
Macha Allah courage
2026-10-12 20:39:15
5
abdoulmajidmoussah1
abdoulmajidmoussa69 :
ب ما شاء الله
2026-10-13 20:46:52
2
souradjiabdoulaye19
Souradji Abdoulaye :
Merci beaucoup 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2026-10-12 23:00:10
2
lamino.adamou
damarawi Zakaria :
merci beaucoup monfrer dicouraz 😁
2026-10-14 19:22:11
2
hamidou2310
Hamidou :
merci beaucoup Du courage
2026-10-12 22:41:33
3
mhd.du.z.227
Mhd dit DG :
vraiment ducourage 🙏🤔
2026-10-13 12:16:40
3
user61287493872555
Habibou h.h. :
, c'est quoi un statut hélicoptère là ça fonctionne
2026-10-16 16:01:41
1
user6684220962819
liko na sakina 🇳🇪🇳🇪🇳🇪 :
Irssabo
2026-10-12 21:43:56
3
mubarakroro9981
moubarak musa :
very good thanks
2026-10-12 20:11:25
4
To see more videos from user @hamsatherbaba1, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

CIREBON | Cyberpolri.id — Korupsi dan suap tak lagi wajah asing di negeri ini; ia merayap sampai ke lingkungan sekolah, tempat seharusnya nurani bangsa dibentuk. Dari pungutan seragam sampai “sumbangan” berkala, orangtua berubah jadi ATM berjalan: tiap daftar ulang, tiap awal tahun, bahkan di tengah dan akhir tahun pelajaran, selalu ada tangan yang menjulurkan amplop. Biasanya skema itu disamarkan lewat rapat komite dan selebaran yang harus dibaca orangtua. Argumentasinya klise: dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tak cukup, jadi diperlukan sumbangan untuk perbaikan fasilitas, tour studi, paket seragam, atau kegiatan akhir tahun. Yang jadi kenyataan: banyak kepala sekolah dan panitia memanfaatkan momentum pendaftaran untuk memungut uang pendaftaran—sering berkisar Rp100.000 per siswa di tingkat SMP—yang seharusnya tidak menjadi sumber penghasilan tambahan. Parahnya, ketika wartawan atau LSM mendekat untuk mengendus praktik ini, bukannya masalah diungkap, sejumlah kepala sekolah memilih jalan pintas: memberikan uang untuk menutup pemberitaan. Temuan Warta Pasundan menunjukkan rentetan kepala sekolah menyerahkan uang ke oknum media dengan tujuan “meredam” atau “takedone” berita. Jika benar, tindakan itu bukan sekadar bungkam media; itu gratifikasi dan potensi penyalahgunaan wewenang. Dinas pendidikan acap kali tampak menutup mata, bahkan ada kecenderungan membela pihak sekolah. Padahal akar persoalan adalah pengelolaan anggaran BOS dan bantuan lainnya yang perlu diaudit: apakah dana digunakan sesuai aturan, apakah transparan, siapa penerima manfaatnya.  Ketika pengelolaan tak jelas, ruang bagi pungutan liar dan gratifikasi terbuka lebar. Fenomena ini bukan kasus tunggal. Sejarah panjang di Cirebon memperlihatkan contoh—BOS dipotong atas perintah kepala sekolah sehingga berujung pada proses hukum.  Itu mengingatkan bahwa penyimpangan di sekolah bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan pengkhianatan terhadap hak pendidikan anak dan asas keadilan rakyat. Solusi harus tegas dan menyeluruh: Audit rutin dan terbuka atas pengelolaan BOS dan donasi sekolah. - Mekanisme pelaporan yang aman bagi orangtua, dengan perlindungan dari pembalasan. - Sanksi administratif dan pidana tegas untuk kepala sekolah atau panitia yang memungut ilegal atau menerima gratifikasi. - Penerapan peraturan perampasan aset bagi pelaku korupsi, tidak hanya kelas kakap tapi juga kelas menengah yang meraup keuntungan dari praktik ini. - Pendidikan antikorupsi untuk komunitas sekolah, komite, dan wali murid. Sepandai-pandainya upaya menutupi praktik ini, pada akhirnya akan terendus. Para pelaku yang memilih memberi “uang damai” pada wartawan atau LSM sedang menanam bom yang kelak meledak dan menjatuhkan reputasi serta karier mereka sendiri. Untuk menjaga kepercayaan publik, semua pihak—dinas pendidikan, kepolisian, dan masyarakat—harus bergerak: buka fakta, proses hukum bila perlu, dan pulihkan hak belajar anak tanpa beban biaya tak berdasar. Tim investigasi Warta Pasundan akan terus menelusuri aliran dana, bukti pemungutan, dan saksi-saksi. Publik berhak tahu: apakah sekolah tempat anaknya belajar menjadi sumber pengayaan segelintir orang atau benar-benar dikelola untuk kepentingan pendidikan.(Imam r)#beritaviral#cirebon
CIREBON | Cyberpolri.id — Korupsi dan suap tak lagi wajah asing di negeri ini; ia merayap sampai ke lingkungan sekolah, tempat seharusnya nurani bangsa dibentuk. Dari pungutan seragam sampai “sumbangan” berkala, orangtua berubah jadi ATM berjalan: tiap daftar ulang, tiap awal tahun, bahkan di tengah dan akhir tahun pelajaran, selalu ada tangan yang menjulurkan amplop. Biasanya skema itu disamarkan lewat rapat komite dan selebaran yang harus dibaca orangtua. Argumentasinya klise: dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tak cukup, jadi diperlukan sumbangan untuk perbaikan fasilitas, tour studi, paket seragam, atau kegiatan akhir tahun. Yang jadi kenyataan: banyak kepala sekolah dan panitia memanfaatkan momentum pendaftaran untuk memungut uang pendaftaran—sering berkisar Rp100.000 per siswa di tingkat SMP—yang seharusnya tidak menjadi sumber penghasilan tambahan. Parahnya, ketika wartawan atau LSM mendekat untuk mengendus praktik ini, bukannya masalah diungkap, sejumlah kepala sekolah memilih jalan pintas: memberikan uang untuk menutup pemberitaan. Temuan Warta Pasundan menunjukkan rentetan kepala sekolah menyerahkan uang ke oknum media dengan tujuan “meredam” atau “takedone” berita. Jika benar, tindakan itu bukan sekadar bungkam media; itu gratifikasi dan potensi penyalahgunaan wewenang. Dinas pendidikan acap kali tampak menutup mata, bahkan ada kecenderungan membela pihak sekolah. Padahal akar persoalan adalah pengelolaan anggaran BOS dan bantuan lainnya yang perlu diaudit: apakah dana digunakan sesuai aturan, apakah transparan, siapa penerima manfaatnya. Ketika pengelolaan tak jelas, ruang bagi pungutan liar dan gratifikasi terbuka lebar. Fenomena ini bukan kasus tunggal. Sejarah panjang di Cirebon memperlihatkan contoh—BOS dipotong atas perintah kepala sekolah sehingga berujung pada proses hukum. Itu mengingatkan bahwa penyimpangan di sekolah bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan pengkhianatan terhadap hak pendidikan anak dan asas keadilan rakyat. Solusi harus tegas dan menyeluruh: Audit rutin dan terbuka atas pengelolaan BOS dan donasi sekolah. - Mekanisme pelaporan yang aman bagi orangtua, dengan perlindungan dari pembalasan. - Sanksi administratif dan pidana tegas untuk kepala sekolah atau panitia yang memungut ilegal atau menerima gratifikasi. - Penerapan peraturan perampasan aset bagi pelaku korupsi, tidak hanya kelas kakap tapi juga kelas menengah yang meraup keuntungan dari praktik ini. - Pendidikan antikorupsi untuk komunitas sekolah, komite, dan wali murid. Sepandai-pandainya upaya menutupi praktik ini, pada akhirnya akan terendus. Para pelaku yang memilih memberi “uang damai” pada wartawan atau LSM sedang menanam bom yang kelak meledak dan menjatuhkan reputasi serta karier mereka sendiri. Untuk menjaga kepercayaan publik, semua pihak—dinas pendidikan, kepolisian, dan masyarakat—harus bergerak: buka fakta, proses hukum bila perlu, dan pulihkan hak belajar anak tanpa beban biaya tak berdasar. Tim investigasi Warta Pasundan akan terus menelusuri aliran dana, bukti pemungutan, dan saksi-saksi. Publik berhak tahu: apakah sekolah tempat anaknya belajar menjadi sumber pengayaan segelintir orang atau benar-benar dikelola untuk kepentingan pendidikan.(Imam r)#beritaviral#cirebon

About