@tonho_04: Mejor solo que mal acompañado.✍🏼#ninoabravanel #frases

𝟏
𝟏
Open In TikTok:
Region: VE
Saturday 24 October 2026 17:09:21 GMT
20
7
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @tonho_04, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kata Ibn ‘Atha’illah, ada sesuatu yang lebih melelahkan daripada gagal: terus memaksa sesuatu yang memang bukan bagianmu. Gagal sebenarnya tidak selalu menghancurkan seseorang. Yang sering membuat kita benar-benar lelah adalah terus mencoba memaksa pintu yang berkali-kali tertutup, lalu bertanya mengapa Allah tidak membukakannya. Kita memaksa sebuah hubungan bertahan, meskipun berkali-kali membuat kita kehilangan diri sendiri. Memaksa seseorang memahami kita, meskipun ia tidak pernah benar-benar ingin mengerti. Memaksa sebuah pekerjaan, kesempatan, atau rencana agar berjalan persis seperti yang kita inginkan. Lalu ketika semuanya tidak berhasil, kita mengira Allah sedang menghalangi kebahagiaan kita. Dalam Al-Hikam, Ibn ‘Atha’illah al-Sakandari berulang kali mengingatkan tentang bahaya menggantungkan ketenangan kepada pengaturan diri sendiri. Salah satu hikmah yang sangat terkenal berbicara tentang bagaimana keinginan yang terlalu kuat terhadap sesuatu dapat menjadi tanda bahwa kita belum sepenuhnya berserah kepada pengaturan Allah. Bukan berarti kita tidak boleh berusaha. Tasawuf tidak mengajarkan manusia untuk duduk diam lalu menyebut semua kegagalan sebagai takdir. Kita tetap diperintahkan untuk berikhtiar. Tetapi ada titik ketika ikhtiar berubah menjadi keterikatan, dan keterikatan berubah menjadi pemaksaan. Kita tidak lagi sekadar berusaha mendapatkan sesuatu. Kita merasa harus mendapatkannya. Di situlah hati mulai kelelahan. Sebab kita bukan hanya melawan keadaan. Kita sedang melawan kenyataan bahwa tidak semua yang kita inginkan memang baik untuk kita. Ada kalanya Allah menutup sebuah pintu bukan karena kita tidak layak masuk, tetapi karena jalan itu memang bukan tempat kita bertumbuh. Ada orang yang harus pergi. Ada kesempatan yang harus gagal. Ada rencana yang harus berantakan. Ada sesuatu yang sudah kita perjuangkan bertahun-tahun tetapi tetap tidak menjadi milik kita. Dan kita tidak selalu diberi penjelasan mengapa. Yang sering diminta dari kita bukan memahami seluruh rahasia takdir, melainkan tetap percaya kepada Allah ketika kita belum memahami apa-apa. Ibn ‘Atha’illah dalam Al-Hikam juga mengingatkan bahwa janganlah keterlambatan datangnya sesuatu yang dijanjikan membuatmu berputus asa. Sebab Allah telah menjamin apa yang menjadi bagianmu pada waktu yang Dia tentukan, bukan pada waktu yang ditentukan oleh kegelisahanmu. Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi: “Bagaimana caranya agar aku mendapatkan ini?” Tetapi: “Apakah aku masih diminta memperjuangkannya, atau sebenarnya aku sedang diminta belajar melepaskannya?” Ada perbedaan besar antara menyerah karena lelah dan melepaskan karena percaya. Yang pertama lahir dari keputusasaan. Yang kedua lahir dari tawakkal. Kamu boleh mengetuk pintu. Boleh mencoba berkali-kali. Boleh memperjuangkan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Tetapi ketika pintu itu terus tertutup, jangan sampai seluruh hidupmu habis hanya untuk memaksa pintu yang sama. Tidak semua yang gagal menjadi milikmu adalah kehilangan. Bisa jadi itu cara Allah menyelamatkanmu dari sesuatu yang belum mampu kamu lihat keburukannya. Dan mungkin kedewasaan spiritual dimulai ketika kita mampu berkata: “Aku sudah berusaha. Jika ini memang bagianku, mudahkanlah. Jika bukan, lapangkanlah hatiku untuk melepaskannya.” Karena terkadang yang perlu kita perjuangkan bukan lagi agar sesuatu menjadi milik kita. Tetapi agar hati kita mampu menerima ketika ternyata sesuatu itu memang bukan milik kita. #motivation #muslimquotes #fyp #viral #trending
Kata Ibn ‘Atha’illah, ada sesuatu yang lebih melelahkan daripada gagal: terus memaksa sesuatu yang memang bukan bagianmu. Gagal sebenarnya tidak selalu menghancurkan seseorang. Yang sering membuat kita benar-benar lelah adalah terus mencoba memaksa pintu yang berkali-kali tertutup, lalu bertanya mengapa Allah tidak membukakannya. Kita memaksa sebuah hubungan bertahan, meskipun berkali-kali membuat kita kehilangan diri sendiri. Memaksa seseorang memahami kita, meskipun ia tidak pernah benar-benar ingin mengerti. Memaksa sebuah pekerjaan, kesempatan, atau rencana agar berjalan persis seperti yang kita inginkan. Lalu ketika semuanya tidak berhasil, kita mengira Allah sedang menghalangi kebahagiaan kita. Dalam Al-Hikam, Ibn ‘Atha’illah al-Sakandari berulang kali mengingatkan tentang bahaya menggantungkan ketenangan kepada pengaturan diri sendiri. Salah satu hikmah yang sangat terkenal berbicara tentang bagaimana keinginan yang terlalu kuat terhadap sesuatu dapat menjadi tanda bahwa kita belum sepenuhnya berserah kepada pengaturan Allah. Bukan berarti kita tidak boleh berusaha. Tasawuf tidak mengajarkan manusia untuk duduk diam lalu menyebut semua kegagalan sebagai takdir. Kita tetap diperintahkan untuk berikhtiar. Tetapi ada titik ketika ikhtiar berubah menjadi keterikatan, dan keterikatan berubah menjadi pemaksaan. Kita tidak lagi sekadar berusaha mendapatkan sesuatu. Kita merasa harus mendapatkannya. Di situlah hati mulai kelelahan. Sebab kita bukan hanya melawan keadaan. Kita sedang melawan kenyataan bahwa tidak semua yang kita inginkan memang baik untuk kita. Ada kalanya Allah menutup sebuah pintu bukan karena kita tidak layak masuk, tetapi karena jalan itu memang bukan tempat kita bertumbuh. Ada orang yang harus pergi. Ada kesempatan yang harus gagal. Ada rencana yang harus berantakan. Ada sesuatu yang sudah kita perjuangkan bertahun-tahun tetapi tetap tidak menjadi milik kita. Dan kita tidak selalu diberi penjelasan mengapa. Yang sering diminta dari kita bukan memahami seluruh rahasia takdir, melainkan tetap percaya kepada Allah ketika kita belum memahami apa-apa. Ibn ‘Atha’illah dalam Al-Hikam juga mengingatkan bahwa janganlah keterlambatan datangnya sesuatu yang dijanjikan membuatmu berputus asa. Sebab Allah telah menjamin apa yang menjadi bagianmu pada waktu yang Dia tentukan, bukan pada waktu yang ditentukan oleh kegelisahanmu. Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi: “Bagaimana caranya agar aku mendapatkan ini?” Tetapi: “Apakah aku masih diminta memperjuangkannya, atau sebenarnya aku sedang diminta belajar melepaskannya?” Ada perbedaan besar antara menyerah karena lelah dan melepaskan karena percaya. Yang pertama lahir dari keputusasaan. Yang kedua lahir dari tawakkal. Kamu boleh mengetuk pintu. Boleh mencoba berkali-kali. Boleh memperjuangkan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Tetapi ketika pintu itu terus tertutup, jangan sampai seluruh hidupmu habis hanya untuk memaksa pintu yang sama. Tidak semua yang gagal menjadi milikmu adalah kehilangan. Bisa jadi itu cara Allah menyelamatkanmu dari sesuatu yang belum mampu kamu lihat keburukannya. Dan mungkin kedewasaan spiritual dimulai ketika kita mampu berkata: “Aku sudah berusaha. Jika ini memang bagianku, mudahkanlah. Jika bukan, lapangkanlah hatiku untuk melepaskannya.” Karena terkadang yang perlu kita perjuangkan bukan lagi agar sesuatu menjadi milik kita. Tetapi agar hati kita mampu menerima ketika ternyata sesuatu itu memang bukan milik kita. #motivation #muslimquotes #fyp #viral #trending

About