@anyer.da.silva2611: #paratiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii #soycristiana♡ #vuelve #procesos

da silva
da silva
Open In TikTok:
Region: BR
Tuesday 27 October 2026 18:06:15 GMT
2211
15
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @anyer.da.silva2611, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Tjhie Pwee Giok. Nama itu mungkin asing di telinga kita, namun jejak jemarinya telah melukis wajah jutaan perempuan Indonesia. Sebelum dunia mengenalnya sebagai Martha Tilaar, sang matriark di balik imperium kosmetik Sariayu, ia adalah seorang gadis keturunan Peranakan Tionghoa-Jawa yang lahir di Gombong Kebumen pada 4 September 1937 bernama Martha Handana. Ayahnya bernama Yakob Handana. Kakeknya seorang leveransir (penyedia barang) pada zaman kolonial Belanda. Masa kecilnya dihabiskan di sebuah rumah keluarga besar di Gombong, yang kini telah direnovasi menjadi cagar budaya dan destinasi wisata bernama Roemah Martha Tilaar. Mimpi awalnya berakar di dunia pendidikan. Lulus sebagai Sarjana Pendidikan sejarah dari IKIP Jakarta (kini UNJ) pada tahun 1963, beliau sempat mengabdi sebagai guru SD selama dua tahun dan dosen di almamaternya.  Namun, takdir memiliki rencana lain ketika ia mendampingi sang suami tercinta, Prof. Dr. Henry Alex Rudolf Tilaar, pakar pendidikan asal Minahasa yang dinikahinya pada Januari 1964, berangkat ke Amerika Serikat, ia justru melangkah ke Academy of Beauty Culture di Bloomington, Indiana, dan lulus pada 1968, sebuah langkah awal yang nantinya membawanya meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Tucson, Arizona. Tahun 1970 menjadi titik didih revolusi. Berbekal modal hanya Rp1 juta sekembalinya dari Amerika, ia membuka salon sederhana berukuran 4x6 meter di garasi rumah orang tuanya di Menteng, Jakarta Pusat. Dengan gigih, ia mengetuk pintu dari satu rumah ke rumah lain, menarik perhatian istri-istri pejabat hingga roda imperium itu mulai berputar. Tahun 1972, langkahnya semakin mantap lewat Martha Griya Salon. Ketika pasar dibanjiri oleh tren kecantikan barat yang serba kimiawi, Martha justru memilih
Tjhie Pwee Giok. Nama itu mungkin asing di telinga kita, namun jejak jemarinya telah melukis wajah jutaan perempuan Indonesia. Sebelum dunia mengenalnya sebagai Martha Tilaar, sang matriark di balik imperium kosmetik Sariayu, ia adalah seorang gadis keturunan Peranakan Tionghoa-Jawa yang lahir di Gombong Kebumen pada 4 September 1937 bernama Martha Handana. Ayahnya bernama Yakob Handana. Kakeknya seorang leveransir (penyedia barang) pada zaman kolonial Belanda. Masa kecilnya dihabiskan di sebuah rumah keluarga besar di Gombong, yang kini telah direnovasi menjadi cagar budaya dan destinasi wisata bernama Roemah Martha Tilaar. Mimpi awalnya berakar di dunia pendidikan. Lulus sebagai Sarjana Pendidikan sejarah dari IKIP Jakarta (kini UNJ) pada tahun 1963, beliau sempat mengabdi sebagai guru SD selama dua tahun dan dosen di almamaternya. Namun, takdir memiliki rencana lain ketika ia mendampingi sang suami tercinta, Prof. Dr. Henry Alex Rudolf Tilaar, pakar pendidikan asal Minahasa yang dinikahinya pada Januari 1964, berangkat ke Amerika Serikat, ia justru melangkah ke Academy of Beauty Culture di Bloomington, Indiana, dan lulus pada 1968, sebuah langkah awal yang nantinya membawanya meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Tucson, Arizona. Tahun 1970 menjadi titik didih revolusi. Berbekal modal hanya Rp1 juta sekembalinya dari Amerika, ia membuka salon sederhana berukuran 4x6 meter di garasi rumah orang tuanya di Menteng, Jakarta Pusat. Dengan gigih, ia mengetuk pintu dari satu rumah ke rumah lain, menarik perhatian istri-istri pejabat hingga roda imperium itu mulai berputar. Tahun 1972, langkahnya semakin mantap lewat Martha Griya Salon. Ketika pasar dibanjiri oleh tren kecantikan barat yang serba kimiawi, Martha justru memilih "pulang kampung". Ia blusukan ke sesepuh keraton, berguru pada dukun beranak, dan meramu kembali empon-empon serta jamu purba menjadi mahakarya modern. Puncaknya pada 1977, bersama pendiri Kalbe Group (Theresia Harsini Setiady dan Bernard Pranata), lahirlah PT Martina Berto dan Sariayu Martha Tilaar, merek kosmetik dan jamu modern pertama yang mengangkat kearifan lokal. Dari ekspansi pabrik besar di Pulogadung (1981–1983) hingga aksi korporasi besar pada 1999 saat ia mengambil alih seluruh saham untuk berdiri mandiri, Martha Tilaar membangun kerajaan bisnis yang menaungi Sariayu, Biokos, PAC, Dewi Sri Spa, hingga Puspita Martha. Keempat buah hatinya, Bryan, Pingkan, Wulan, dan Kilala, kini memegang tongkat estafet menjaga api warisan tersebut tetap menyala. Sariayu lahir bukan sekadar sebagai produk pemulas pipi, melainkan sebuah gerakan kultural. Berporos pada filosofi agung, Rupasampat Wahyabyantara (Rupawan Sanubari) beliau membuktikan bahwa kulit sawo matang perempuan Nusantara adalah sebuah kanvas kemewahan, bukan kekurangan yang harus disembunyikan. Ia adalah pionir sejati yang mempertemukan high-technology sains modern dengan high-touch ramuan herbal lokal, serta pencetus tradisi "Tren Warna" tahunan di Indonesia. Dari garasi sempit, mimpi Tjhie Pwee Giok melesat melahirkan ratusan gerai spa, sekolah kecantikan, hingga penghargaan tertinggi Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden RI. Beliau tidak hanya membangun bisnis; ia mendirikan sebuah peradaban kecantikan lokal yang mandiri. Kini, sang Maestro telah berpulang. Pada Rabu, 14 Oktober 2026, di usia 89 tahun, Ibu Martha Tilaar mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang di RS Medistra, Jakarta, sebelum akhirnya diantar ke peristirahatan terakhirnya di San Diego Hills. Selamat jalan, Tjhie Pwee Giok. Terima kasih telah mengajari kami cara mencintai diri sendiri. Rest in Pride. --- Sumber: • Rilis Resmi Keluarga Besar Martha Tilaar Group (Instagram @martha_tilaar) • Laporan Wafat Real-Time Kompas.com & Wolipop Detikcom (Oktober 2026) • Buku Memoar Resmi: "Dari Gombong Desaku Berkumandang di United Nations, New York" • Arsip Sejarah Industri Kecantikan Indonesia PT Martina Berto Tbk #marthatilaar #sariayu #kisahinspiratif #tokohindonesia #kangkuchel

About