@ky.saah: peguem a referência KKKKKKKKKKK . . . . #memee #humortiktok #chiquititas #fypシ゚viral #viraltiktok

ky.saah
ky.saah
Open In TikTok:
Region: BR
Wednesday 03 June 2026 01:47:08 GMT
825284
145402
1687
13696

Music

Download

Comments

beaxwww
Bia💯 Miranda :
o iPad:Loka Loka quem tá é vc
2026-06-03 17:04:47
162
yaaaaab.jin
☥ :
não são horas de tela, são minutos (era o vídeo de cima;-;)
2026-06-03 09:01:16
9074
_vitoriazxrr
ጀሚሊ :
Não são horas de tela, são anos;-; a ref tendo nem 4dias
2026-06-03 12:20:18
1374
lifestyle.from.nick
Nyck🍄 :
Que vídeo maneiro!!cadê o iPad??
2026-06-03 21:00:30
58
satorumaju
maju ★ :
quando meu iPad ameaça cair no chão:
2026-06-03 02:42:30
266
erikkkj.xp
é o erikinho :3 :
sao 1 dias de tela
2026-06-03 11:33:35
104
.licazkkj
m :
nao sao anos de tela, sao um dia
2026-06-04 01:25:47
64
larasoares9063
✰༺꧁𓆉larona𓆉꧂༻✰ :
2 vídeo que eu vejo sobre esse ipad
2026-06-03 12:42:25
26
To see more videos from user @ky.saah, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Bab 1 Sudah lima tahun. Lima tahun pernikahan, dan lima kali Lebaran aku menatap punggung suamiku yang menjauh di terminal tanpa pernah sekali pun ia menoleh dan berkata, “Ayo ikut.” “Aku berangkat dulu, ya,” ucap Arga singkat, seperti biasa. Tak ada pelukan panjang. Tak ada janji manis. Tak ada pertanyaan apakah aku ingin ikut. Seolah sudah menjadi aturan tak tertulis dalam rumah tangga kami: Arga mudik sendiri. Aku tinggal. Alasannya selalu sama. “Di kampung ribet.” “Ibu nggak suka ramai.” “Kamu nanti nggak nyaman.” “Rumah lagi direnovasi.” Alasan itu berganti wajah, tapi maknanya tetap satu: aku tidak diinginkan di sana. Awalnya aku mencoba maklum. Tahun pertama, aku percaya. Tahun kedua, aku masih berusaha percaya. Tahun ketiga, aku mulai bertanya. Tahun keempat, aku mulai curiga. Dan tahun kelima ini… hatiku sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. “Kenapa sih aku nggak boleh ikut, Mas?” tanyaku pelan malam sebelum keberangkatannya. Arga yang sedang melipat bajunya berhenti sejenak. Hanya sejenak. “Kamu kan tahu sendiri. Di sana nggak enak. Nanti kamu malah capek.” Aku tersenyum tipis. Senyum istri yang pura-pura mengerti. “Capek karena apa? Aku kan cuma mau silaturahmi.” Arga menghela napas panjang, seolah aku anak kecil yang terlalu banyak bertanya. “Sudah, ya. Jangan mulai lagi.” Jangan mulai lagi. Kalimat itu seperti palu. Setiap kali aku mencoba membuka percakapan, ia menutupnya dengan nada lelah yang membuatku merasa bersalah karena bertanya. Padahal aku hanya ingin ikut mudik. Ke kampung suamiku sendiri. Bukankah itu wajar? --- Pagi ini aku berdiri di depan pintu, memperhatikan Arga menyeret koper hitamnya. “Titip salam buat Ibu,” ucapku. “Iya.” “Bilangkan menantunya pengen banget ketemu.” Arga hanya tersenyum samar. Senyum yang tidak sampai ke mata. Dan ia pergi. Aku berdiri lama setelah mobil travel itu hilang di tikungan. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Lebaran tanpa suami bukan hal baru bagiku. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada bisikan kecil di hatiku yang berkata: Kamu sedang dibohongi. --- Siang harinya, seperti biasa, aku menghabiskan waktu dengan menggulir media sosial. Sekadar mengusir sepi. Sampai satu nama muncul di berandaku. Rina. Aku mengenalnya. Bukan teman dekat, tapi dulu Arga pernah menyebutnya. Tetangga rumah orang tuanya. Seorang janda muda yang suaminya meninggal tiga tahun lalu. Aku tidak pernah bertemu langsung dengannya. Hanya tahu dari cerita sekilas Arga. Katanya, kasihan. Punya satu anak kecil waktu itu. Jariku berhenti saat melihat postingan terbarunya. Sebuah foto. Rina tersenyum lembut, menggendong seorang bayi yang terlihat masih sangat kecil. Pipinya tembam. Kulitnya putih kemerahan. Di belakangnya tampak rumah sederhana dengan dinding yang dicat baru. Caption-nya membuat jantungku berhenti berdetak sejenak. > “Akhirnya yang ditunggu-tunggu akan tiba. Suami tercinta akan pulang.” Aku tersenyum. Tulus. “Alhamdulillah,” gumamku pelan. “Akhirnya Mbak Rina dapat kebahagiaan lagi.” Aku ikut bahagia. Sungguh. Janda itu pantas bahagia. Pantas punya suami yang mencintainya. Pantas memulai hidup baru. Namun, senyumku perlahan memudar. Mataku menyipit. Di belakang Rina, sedikit di sisi kanan foto, terg4ntung sebuah pigura besar. Foto pernikahan. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang membuatku memperbesar gambar itu. Jariku gemetar saat melakukan zoom. Gaun putih. Jas hitam. Dekorasi pelaminan sederhana. Senyum bahagia pengantin pria. Aku mengenal senyum itu. Sangat mengenal. Itu senyum yang sama yang dulu kupandangi di hari pernikahanku. Itu wajah yang setiap pagi terbangun di sampingku. Itu… suamiku. Arga. Darahku seperti berhenti mengalir. Aku memperbesar lagi, seolah berharap penglihatanku salah. Tapi tidak. Itu benar Arga. Dengan jas yang berbeda dari jas pernikahan kami. Dengan latar yang bukan gedung tempat kami menikah. Dengan senyum yang sama… tapi bukan untukku. Tanganku melemas. Ponsel hampir terjatuh. “Tidak mungkin…” bisikku. Judul: Mahligai Cinta Alya  Penulis: Shie Mr #mudik #suaminikahlagi #fyp
Bab 1 Sudah lima tahun. Lima tahun pernikahan, dan lima kali Lebaran aku menatap punggung suamiku yang menjauh di terminal tanpa pernah sekali pun ia menoleh dan berkata, “Ayo ikut.” “Aku berangkat dulu, ya,” ucap Arga singkat, seperti biasa. Tak ada pelukan panjang. Tak ada janji manis. Tak ada pertanyaan apakah aku ingin ikut. Seolah sudah menjadi aturan tak tertulis dalam rumah tangga kami: Arga mudik sendiri. Aku tinggal. Alasannya selalu sama. “Di kampung ribet.” “Ibu nggak suka ramai.” “Kamu nanti nggak nyaman.” “Rumah lagi direnovasi.” Alasan itu berganti wajah, tapi maknanya tetap satu: aku tidak diinginkan di sana. Awalnya aku mencoba maklum. Tahun pertama, aku percaya. Tahun kedua, aku masih berusaha percaya. Tahun ketiga, aku mulai bertanya. Tahun keempat, aku mulai curiga. Dan tahun kelima ini… hatiku sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. “Kenapa sih aku nggak boleh ikut, Mas?” tanyaku pelan malam sebelum keberangkatannya. Arga yang sedang melipat bajunya berhenti sejenak. Hanya sejenak. “Kamu kan tahu sendiri. Di sana nggak enak. Nanti kamu malah capek.” Aku tersenyum tipis. Senyum istri yang pura-pura mengerti. “Capek karena apa? Aku kan cuma mau silaturahmi.” Arga menghela napas panjang, seolah aku anak kecil yang terlalu banyak bertanya. “Sudah, ya. Jangan mulai lagi.” Jangan mulai lagi. Kalimat itu seperti palu. Setiap kali aku mencoba membuka percakapan, ia menutupnya dengan nada lelah yang membuatku merasa bersalah karena bertanya. Padahal aku hanya ingin ikut mudik. Ke kampung suamiku sendiri. Bukankah itu wajar? --- Pagi ini aku berdiri di depan pintu, memperhatikan Arga menyeret koper hitamnya. “Titip salam buat Ibu,” ucapku. “Iya.” “Bilangkan menantunya pengen banget ketemu.” Arga hanya tersenyum samar. Senyum yang tidak sampai ke mata. Dan ia pergi. Aku berdiri lama setelah mobil travel itu hilang di tikungan. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Lebaran tanpa suami bukan hal baru bagiku. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada bisikan kecil di hatiku yang berkata: Kamu sedang dibohongi. --- Siang harinya, seperti biasa, aku menghabiskan waktu dengan menggulir media sosial. Sekadar mengusir sepi. Sampai satu nama muncul di berandaku. Rina. Aku mengenalnya. Bukan teman dekat, tapi dulu Arga pernah menyebutnya. Tetangga rumah orang tuanya. Seorang janda muda yang suaminya meninggal tiga tahun lalu. Aku tidak pernah bertemu langsung dengannya. Hanya tahu dari cerita sekilas Arga. Katanya, kasihan. Punya satu anak kecil waktu itu. Jariku berhenti saat melihat postingan terbarunya. Sebuah foto. Rina tersenyum lembut, menggendong seorang bayi yang terlihat masih sangat kecil. Pipinya tembam. Kulitnya putih kemerahan. Di belakangnya tampak rumah sederhana dengan dinding yang dicat baru. Caption-nya membuat jantungku berhenti berdetak sejenak. > “Akhirnya yang ditunggu-tunggu akan tiba. Suami tercinta akan pulang.” Aku tersenyum. Tulus. “Alhamdulillah,” gumamku pelan. “Akhirnya Mbak Rina dapat kebahagiaan lagi.” Aku ikut bahagia. Sungguh. Janda itu pantas bahagia. Pantas punya suami yang mencintainya. Pantas memulai hidup baru. Namun, senyumku perlahan memudar. Mataku menyipit. Di belakang Rina, sedikit di sisi kanan foto, terg4ntung sebuah pigura besar. Foto pernikahan. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang membuatku memperbesar gambar itu. Jariku gemetar saat melakukan zoom. Gaun putih. Jas hitam. Dekorasi pelaminan sederhana. Senyum bahagia pengantin pria. Aku mengenal senyum itu. Sangat mengenal. Itu senyum yang sama yang dulu kupandangi di hari pernikahanku. Itu wajah yang setiap pagi terbangun di sampingku. Itu… suamiku. Arga. Darahku seperti berhenti mengalir. Aku memperbesar lagi, seolah berharap penglihatanku salah. Tapi tidak. Itu benar Arga. Dengan jas yang berbeda dari jas pernikahan kami. Dengan latar yang bukan gedung tempat kami menikah. Dengan senyum yang sama… tapi bukan untukku. Tanganku melemas. Ponsel hampir terjatuh. “Tidak mungkin…” bisikku. Judul: Mahligai Cinta Alya Penulis: Shie Mr #mudik #suaminikahlagi #fyp

About