@1900rugrat: Yall listen to Lil Birdy yet?😈

1900Rugrat
1900Rugrat
Open In TikTok:
Region: US
Wednesday 17 June 2026 22:54:41 GMT
488880
51480
1251
2350

Music

Download

Comments

chrxmedonfn
￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴￴ ￴ ￴ ￴ ￴ :
a rapper that listens to their fans❤️
2026-06-17 23:39:13
6986
enrisssligier
Enrisss Ligier𓆪 :
collab with yeat or Ken bru😭🔥
2026-06-18 10:04:23
712
jusarandomgirll8
idkimjuslele :
Yall sleep on him so bad
2026-06-18 01:14:00
318
uszk1234
💀💀💀 :
ngl if u clear your vocals up a bit you can go far
2026-06-18 09:09:26
10
8sqm
407_evan :
Yo ah did a good ah performance at tona truck meet
2026-06-18 00:25:20
54
superswaggy9000
ashton!!! :
me n twin at midnight 😛
2026-06-17 23:04:43
23
thejays18
Somewerido :
Can anybody tell me if he dropped this song yet
2026-06-18 00:56:18
5
To see more videos from user @1900rugrat, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

KOPI 15 RIBU, DUDUK SAMPAI CAFÉ TUTUP Kalau kepala gue lagi penuh pikiran, tempat favorit yang gue tuju adalah café outdoor. Gue biasanya duduk di kursi nomor 8. Pesan satu Americano tanpa gula. Harganya? Rp15.000. Iya, Lima belas ribu rupiah. Setelah kopi datang, gue keluarkan charger, colok HP, sambungkan Wi-Fi café, buka TikTok, buka browser, lalu mulai menulis novel. Kadang nulis serius. Kadang bengong. Kadang dapat ide. Kadang buka TikTok cuma mau cari satu video... Lima puluh video kemudian gue baru sadar: “Anjir... gue tadi mau ngapain?” Begitulah manusia modern. Kita punya banyak aplikasi untuk mempermudah hidup, tapi satu aplikasi bernama TikTok bisa membuat kita lupa waktu, lupa tujuan. Hari itu kebetulan barista yang jaga bukan barista langganan gue. Barista magang. Mungkin dia belum tahu kebiasaan gue. Dia melihat gue. Kopi cuma satu. Rp15.000. Tapi duduknya dari siang sampai café hampir tutup. HP dicas. Wi-Fi nyala. Jari mengetik. TikTok terbuka. Browser terbuka. Dan gue masih santai di kursi nomor 8. Kemudian dia nyeletuk: “Pesannya cuma secangkir kopi Americano tanpa gula seharga lima belas ribu rupiah, tapi duduk berjam-jam sambil ngecas HP sampai café tutup.” Gue cuma senyum. Dalam hati gue bilang: “Hmm... Lo belum tau gue aja.” Dia belum tahu bahwa gue bukan sedang sekadar nongkrong. Gue sedang bekerja. Gue sedang menulis. Gue sedang mencari ide. Gue sedang mengubah kegaduhan di kepala menjadi kalimat. Because sometimes, a quiet corner and a cup of bitter coffee are enough to bring our thoughts back to life. Orang melihat gue cuma minum kopi. Padahal di kepala gue mungkin sedang ada sepuluh cerita yang sedang berantem minta ditulis duluan. Dan di situlah gue belajar satu hal. Jangan terlalu cepat menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat. Orang yang duduk sendirian di café belum tentu sedang kesepian. Orang yang diam belum tentu tidak punya cerita. Orang yang terlihat santai belum tentu tidak sedang berjuang. Dan orang yang cuma pesan kopi lima belas ribu... belum tentu miskin. Bisa jadi memang lagi hemat. Tapi serius... Kita sering sekali menilai kehidupan orang berdasarkan apa yang terlihat dari luar. Padahal kita tidak pernah tau apa yang sedang seseorang perjuangkan ketika tidak ada yang melihat. Never judge someone's journey from a single moment. Bisa jadi meja café itu adalah kantornya. Bisa jadi secangkir kopi itu adalah teman berpikirnya. Bisa jadi Wi-Fi itu adalah fasilitas yang membantunya bekerja. Dan bisa jadi... laptop atau HP yang sedang dicas itu bukan cuma sedang mengisi baterai. Tetapi pemiliknya juga sedang mengisi kembali energi hidupnya. Karena terkadang kita memang membutuhkan tempat untuk berhenti sebentar. Bukan untuk menyerah. Tapi untuk berpikir. Bukan untuk melarikan diri. Tapi untuk menemukan arah. Gue suka kopi pahit tanpa gula karena hidup juga tidak selalu menyediakan rasa manis. Ada hari ketika semuanya berjalan baik. Ada hari ketika kepala terasa penuh. Ada hari ketika kita ingin bicara, tapi tidak tahu kepada siapa. Dan ada hari ketika satu-satunya yang kita butuhkan hanyalah duduk tenang, menyeruput kopi, lalu berkata kepada diri sendiri: “Pelan-pelan aja, hidup belum selesai.” Sometimes, healing doesn't look like a vacation. Sometimes, it looks like sitting alone, writing your thoughts, and breathing again. Jadi kalau suatu hari lo melihat seseorang duduk berjam-jam di café cuma dengan secangkir kopi... jangan langsung berpikir: “Wah, modal lima belas ribu, numpang Wi-Fi sampai tutup.” Siapa tau dia sedang membangun masa depan. Siapa tau dia sedang menulis buku. Siapa tau dia sedang menyusun mimpi. Atau... ya memang lagi numpang Wi-Fi 😂 Tapi kalau memang benar numpang Wi-Fi... minimal pesan kopi kedua. Kasihan baristanya. Dia juga punya target penjualan. Salam hangat dari Gue,  — Rey Inspire Affirmative Writer • Digital Storyteller • Relationship Observer #refleksidiri #cafe #afirmasipositif #filosofikopi
KOPI 15 RIBU, DUDUK SAMPAI CAFÉ TUTUP Kalau kepala gue lagi penuh pikiran, tempat favorit yang gue tuju adalah café outdoor. Gue biasanya duduk di kursi nomor 8. Pesan satu Americano tanpa gula. Harganya? Rp15.000. Iya, Lima belas ribu rupiah. Setelah kopi datang, gue keluarkan charger, colok HP, sambungkan Wi-Fi café, buka TikTok, buka browser, lalu mulai menulis novel. Kadang nulis serius. Kadang bengong. Kadang dapat ide. Kadang buka TikTok cuma mau cari satu video... Lima puluh video kemudian gue baru sadar: “Anjir... gue tadi mau ngapain?” Begitulah manusia modern. Kita punya banyak aplikasi untuk mempermudah hidup, tapi satu aplikasi bernama TikTok bisa membuat kita lupa waktu, lupa tujuan. Hari itu kebetulan barista yang jaga bukan barista langganan gue. Barista magang. Mungkin dia belum tahu kebiasaan gue. Dia melihat gue. Kopi cuma satu. Rp15.000. Tapi duduknya dari siang sampai café hampir tutup. HP dicas. Wi-Fi nyala. Jari mengetik. TikTok terbuka. Browser terbuka. Dan gue masih santai di kursi nomor 8. Kemudian dia nyeletuk: “Pesannya cuma secangkir kopi Americano tanpa gula seharga lima belas ribu rupiah, tapi duduk berjam-jam sambil ngecas HP sampai café tutup.” Gue cuma senyum. Dalam hati gue bilang: “Hmm... Lo belum tau gue aja.” Dia belum tahu bahwa gue bukan sedang sekadar nongkrong. Gue sedang bekerja. Gue sedang menulis. Gue sedang mencari ide. Gue sedang mengubah kegaduhan di kepala menjadi kalimat. Because sometimes, a quiet corner and a cup of bitter coffee are enough to bring our thoughts back to life. Orang melihat gue cuma minum kopi. Padahal di kepala gue mungkin sedang ada sepuluh cerita yang sedang berantem minta ditulis duluan. Dan di situlah gue belajar satu hal. Jangan terlalu cepat menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat. Orang yang duduk sendirian di café belum tentu sedang kesepian. Orang yang diam belum tentu tidak punya cerita. Orang yang terlihat santai belum tentu tidak sedang berjuang. Dan orang yang cuma pesan kopi lima belas ribu... belum tentu miskin. Bisa jadi memang lagi hemat. Tapi serius... Kita sering sekali menilai kehidupan orang berdasarkan apa yang terlihat dari luar. Padahal kita tidak pernah tau apa yang sedang seseorang perjuangkan ketika tidak ada yang melihat. Never judge someone's journey from a single moment. Bisa jadi meja café itu adalah kantornya. Bisa jadi secangkir kopi itu adalah teman berpikirnya. Bisa jadi Wi-Fi itu adalah fasilitas yang membantunya bekerja. Dan bisa jadi... laptop atau HP yang sedang dicas itu bukan cuma sedang mengisi baterai. Tetapi pemiliknya juga sedang mengisi kembali energi hidupnya. Karena terkadang kita memang membutuhkan tempat untuk berhenti sebentar. Bukan untuk menyerah. Tapi untuk berpikir. Bukan untuk melarikan diri. Tapi untuk menemukan arah. Gue suka kopi pahit tanpa gula karena hidup juga tidak selalu menyediakan rasa manis. Ada hari ketika semuanya berjalan baik. Ada hari ketika kepala terasa penuh. Ada hari ketika kita ingin bicara, tapi tidak tahu kepada siapa. Dan ada hari ketika satu-satunya yang kita butuhkan hanyalah duduk tenang, menyeruput kopi, lalu berkata kepada diri sendiri: “Pelan-pelan aja, hidup belum selesai.” Sometimes, healing doesn't look like a vacation. Sometimes, it looks like sitting alone, writing your thoughts, and breathing again. Jadi kalau suatu hari lo melihat seseorang duduk berjam-jam di café cuma dengan secangkir kopi... jangan langsung berpikir: “Wah, modal lima belas ribu, numpang Wi-Fi sampai tutup.” Siapa tau dia sedang membangun masa depan. Siapa tau dia sedang menulis buku. Siapa tau dia sedang menyusun mimpi. Atau... ya memang lagi numpang Wi-Fi 😂 Tapi kalau memang benar numpang Wi-Fi... minimal pesan kopi kedua. Kasihan baristanya. Dia juga punya target penjualan. Salam hangat dari Gue, — Rey Inspire Affirmative Writer • Digital Storyteller • Relationship Observer #refleksidiri #cafe #afirmasipositif #filosofikopi

About